Kamu menghapusku untuk kedua kalinya, mengabaikan ku untuk kesekian kalinya, Hatiku patah untuk kesekian kalinya,
Tidak...
Aku tidak tahu pasti, yang jelas kau berbahagia dengannya, sedangkan aku masih berusaha mengejar bayanganmu yang entah kapan akan berbalik mengejarku.
setelah pertemuanku dengan maya akhirnya aku pulang, dan tidak menemukan dimas berada dirumahku. "mungkin dia sudah pulang" pikirku
rasanya badanku sudah sangat lelah hari ini kemudian aku langsung bergegas kekamar untuk tidur tanpa memperdulikan kamarku yang sedari tadi berantakkan.
aku terbangun dengan suasana hati yang menyenangkan, rasanya semalam aku tidur dengan sangat nyeyak, tanpa gangguan apapun, pada saat aku berbalik untuk memindahkan posisi badanku ternyata sudah ada dimas disampingku, aku menatap wajahnya, aku tidak mengerti mengapa aku begitu mencintai dimas, sampai tak ada niat untuk meninggalkannya, aku membelai wajahnya dan berharap segala hal ini akan berakhir, entah jalan apapun itu, entah aku yang akan benar-benar meninggalkannya, atau dia yang akan menentukan segala hal yang baik untuknya,dan kemudian aku memeluknya dengan sangat erat. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tak mampu, dimas adalah sosok lelaki yang benar-benar sangat aku cintai, tidak ada lelaki lain yang mampu mengalihkan perhatianku selain dimas rasanya duniaku sudah sepenuhnya terpusat olehnya, dalam tidurnyapun ia juga memelukku dengan sangat erat.
"kamu udah bangun lis?... maaf atas perbuatanku semalam ya lis," ucap dimas"iya aku udah bangun.. iya gapapa dim, semalem kamu kemana? maaf ya aku pergi ninggalin kamu"
"semalem aku pergi kerumah icha,..." "apa? kerumah icha?"-kemudian aku melepaskan pelukkannya terhadapku
"iya kerumah icha, aku gak mau dia terus-terusan gangguin kamu makannya aku samperin dia,aku juga gak mau kamu selalu menderita lis, akukan udah bilang kekamu kalau aku membutuhkan kamu, aku membutuhkan cintamu lis, tidak ada yang lain dari itu" dimas kemudian memelukku kembali
...rasanya aku sudah sangat lelah untuk berdebat, dan hari ini aku juga tidak ingin melakukan banyak aktifitas,aku ingin terus berada didalam kamarku dengan AC yang menyala dan selimutku... tidak lama handphoneku berdering dan aku menerima telpon dari icha
"eh,lis puas ya lu sekarang udah bisa tinggal bareng sama pacar gua, denger ya jangan mentang-mentang kemarin dimas datang nyamperin gua, gua bakalan mau ngelepasin dia buat elu, gak akan , gak akan sama sekali, gak akan pernah gua membiarkan Dimas kembali kedalam pelukkan lu lagi, denger baik-baik apa yang udah gua rebut dari orang lain akan selamanya jadi milik gua lis, lu harus inget itu baik-baik" kemudian telpon dimatikan oleh icha dan aku melempar handphoneku kelantai dan memeluk dimas disampingku
"siapa lagi? sampai tiba-tiba kamu ngelempar handphone kamu?" "icha mas" memendamkan wajahku didalam dada bidangnya
"dia bilang apa lagi kekamu?"
"dia cuma bilang selamat kamu sudah kembali lagi sama aku, sudahlah aku gak mau banyak berfikir untuk hari ini saja, tapi bisakah kamu nanti bertemu dengan maya untuk membantu agar bisa cuti selama seminggu untuk mengajar ditempat aku mengajar, sepertinya aku sangat lelah dan sekarang aku lapar sekali ingin memakan sesuatu"
"yasudah jangan dengerin apa kata dia, mau aku bikinkan sarapan? roti atau sereal? kamu mau cuti seminggu? buat apa? memangnya kamu mau ngapain cuti selama itu?"
"aku mau roti, nanti aku kasih tau kalau kamu udah ketemu sama maya, dan dia akan mengatur jadwal aku untuk ijin selama seminggu dari tempat les"
Dimas segera bangun dan kedapur untuk membuatkan sarapan untukku, aku fikir aku butuh waktu untuk beristirahat dan pergi ke beberapa tempat untuk mencari kesenangan jadi aku putuskan untuk cuti, setelah membuatkan roti untukku dimas, segera bergegas mandi dan pergi menemui maya, iya sudah sangat hapal dengan aku dan maya, ia juga tahu kalau ada masalah apapun aku sudah pasti akan berlari ke arah maya, tidak lupa sebelum pergi menemui maya, selain maya aku juga mempunyai beberapa teman yang memang sangat akrab dengan diriku, cuma memang ya karena aku punya tempat tinggal yang tidak jauh dari maya jadinya aku selalu berlari kearahnya, dimas sudah hapal aku memang tidak begitu mampu untuk mengatur segala halnya sendirian.
Dimas mengenalku sebagai sosok wanita yang manja kalah itu , wanita yang sangat bergantung dengan dirinya, wanita yang tak bisa mandiri sama sekali, wania yang selalu ceroboh dan tanpa dirinya aku tak bisa melakukan apapun tanpanya, tapi sebenarnya kala itu, setelah ia pergi meninggalkan dirku untuk menjalin hubungan dengan icha, aku mencoba membuat diriku untuk tidak bergantung , aku sadar aku harus bisa berdiri sendiri tanpa siapapu, aku harus mampu melakukan segalanya, karena pada akhirnya aku merasa yakin dimas akan meninggalkanku untuk kesekian kalinya, tanpa pengecualian, tanpa berusaha menoleh kembali kepadaku. Dan ketika watu itu akan datang aku akan dengan sigap untuk siap menghadapi kenyataan yang benar-benar menyakitkan itu, setidaknya aku pernah dengan sangat kuat melewati hujan badai jadi aku tidak akan pernah merasa sakit ketika melewati rintikan air hujan yang akan diberikan dimas untukku.
"Loh dimas, ngapain lu pagi-pagi gini ada didepan rumah gua, biasanya juga ngabarin lu kalau mau kesini, emangnya lu gak kerja?" maya terkejut karena tidak biasanya dimas datang menghampirinya
"iya, ini sih lisa minta tolong gua buat ngasih tau kalau dia mau ijin satu minggu dari tempat ngajar"
"ha? ijin? gak biasanya lisa ijin ngajar, diakan seneng banget sama anak-anak, biar sakit aja dia tetep ngajar, eh iya lu mau masuk dulu gak? gak enak jga ngobrol didepan gini" jawab maya dengan nada terkejut dan bingung.
"gak usah may, cuma sebentar aja, jadi tolong ya may, aturin jadwalnya lisa, kayaknya dia capek banget sampe mau ijin gitu, kemarin juga lagi ada problem sama dia" jawab dimas "lagi kenapa sih dim, semanjak lu balik kedia , hidup dia gak pernah ada ketenangan sedikitpun, gua gak mempermasalahkan hubungan kalian berdua, tapi tolonglah kaliankan udah sama-sama dewasa, apalagi elu lebih tua dari gua sama lisa, masa lu gak kasian sama sekali sama lisa, toh juga kalau kalian balik lagi tuh kayak bakalan sia-sia dim"
"HEHEHE, sorry banget may, gua nyakitin perasaan temen lu dulu, cuma kali ini gua bersungguh-sungguh kok mau berusaha bikin lisa bahagia walau emang ini awal yang sangat salah sih, cuma gua tetep berusaha sebaik mungkin agar lisa gak akan tersakiti lagi sama gua, kalau emang ada cowo yang bisa sayang sama lisa dengan tulus selain gua yag gua pasti rela kok lisa pergi dari gua, oh iya udah dulu deh ,gua balik dulu mending sekarang lu atur aja tugasnya lisa harus gimana, dia bisa dapet ijin atau engga dan makasi juga buat nasehat lu pagi-pagi gini"
"sorry dim, nyinggung elu banget ya gua, tapi maaf gua gak bermaksud kok, gua cuma mau hal yang baik aja buat sahabat gua, walau dulu gua pernah jahat sma lisa, tapi gua sadar lisa itu orang yang tulus" jawab maya sambil menunduk tidak berani melihat dimas
"dengerin gua baik-baik ya maya, lagiankan dulu waktu gua jadian sama lisa, elu juga pernah ngegodain gua, bahkan elu pernah mencoba buat ngedeketin gua, tapi itu emang gak berhasil sih tapi sekarang kalau kita simpulkan hal itu jahatan siapa? elu atau gua ?" "okeh dim, gua ngaku kalau gua emang jahat banget dulu sama lisa, walau dia emang gak pernah tahu hal ini, tapi tolong ya dim, jangan pernah bahas ini sama lisa apalagi sama chiko, kalau dia tahu yang ada gua bakalan kehilangan dua orang yang emang berarti buat gua dim"
kemudian dimas pergi meninggalkan maya, dimas pergi bekerja, dan maya pergi memeriksa semua jadwal lisa, dan semua absen yang ada, "sialan tuh dimas, kenapa sih dia selalu aja ngancam gua, tentang masalah gua ngegodain dia, kalau nanti lisa tahu bisa berabe urusannya, apalagi kalau chiko bisa-bisa gak jadi nikah gua sama dia" maya merasa kesal dengan ucapan dimas tadi, dia tahu kalau dimas memang sangat-sangat mencintai lisa, dan memang hanya lisalah pada waktu itu yang mempunyai pacar yang sangat mempesona pada waktu itu, apalagi lisa adalah sosok wanita yang sangat cuek terhadap apapun bahkan ceroboh, lisa juga adalah orang yang sangat percaya kepada siapapun, semenjak kejadian itu, maya tidak pernah berani untuk melukai perasaan lisa, karena hanya lisa lah orang yang benar-benar mempercayai maya, walau sebenarnya banyak sekali rahasia yang di simpan rapat-rapat oleh maya.
....Aku masih memperhatikannya dengan tatapan sinis ,tangannya masih terus memegang lenganku dan akhirnya aku kembali duduk. aku tidak habis pikir, apa yang sebenarnya ia rencanakan...
👦 : "maafkan aku Lis, tapi aku melakukan ini agar kamu tidak akan berfikir untuk meninggalkanku sedikitpun seperti kemarin itu?"
👧 : " Meninggalkanmu seperti kemarin? bukannya sedari awal hubungan ini kamu yang terus-terusan meninggalkan aku, cepat atau lambat semuah ini harus segera berakhir mas"
👦 : " Lalu kamu mau apa? kamu akan pergi? , percayalah padaku kali ini, aku tidak akan pergi meninggalkanmu kali ini tidak akan lagi tapi dengan satu syarat."
.....kemudian dimas mencium bibirku dengan sangat lembut, seketika aku mendorong tubuhnya...
👧:" Syarat seperti apa yang ingin kamu berikan, sudahlah mas, lebih baik sekarang kamu pulang saja, tidak perlu berlama-lama ada disini, aku sangat lelah untuk hari ini. Aku merasa perdebatan hari ini sangat-sangat melelahkan untukku"
👦 : "Tidak , aku tidak akan pulang, aku akan berusaha untuk tetap tinggal disini, dan akan terus-terusan bersama dengan dirimu"
.. kemudian aku kembali berdiri, sebelum dimas berusaha kembali memegang lengan tanganku, perdebatan yang terjadi hari ini benar-benar sangat melelahkan..
kemudian aku memegang handphoneku dan melihat ada sebuah pesan dari Icha "Dasar wanita murahan, wanita jalang, tidak seharusnya kamu bersama dengan dimas sekarang, aku akan terus-terusan mengutuk dirimu,apakah kamu tidak ada kapok-kapoknya menganggu hubunganku dengan dimas!" Dan kemudian aku melempar handphoneku kepada dimas dengan maksud agar dimas membaca pesan yang dikirim oleh Icha
👧 :"Kamu baca itu, apakah aku harus setiap hari menerima pesan singkat dari kekasihmu itu? sudahlah lebih baik kamu pulang saja kepadanya, dan jangan kembali kepadaku, aku jenuh, coba kamu lihat, hari ini saja dia sudah mengirim lebih dari 10 pesan singkat kepadaku"
👦:"kenapa harus menghiraukannya? sudahlah jangan membuang-buang tenagamu, dan pikiranmu, abaikan saja semua pesan singkatnya, apakah kamu benar-benar ingin aku kembali kepada Icha?"
👧 : "Ya!,, kali ini aku benar-benar ingin kau kembali kepadanya, sudahlah kalau kamu memang tidak ingin pergi dari rumah ini, lebih baik aku pergi keluar saja, aku ingin mencari udara segar, didalam sini sangat panas dan membosankan"
....aku membahas banyak hal bersama dengan maya, dari segala aspek dari segala macam pandangan, maya adalah teman dekatku, dia yang sekarang paham dengan segala kondisiku, dia memang akrab denganku dan dengan dimas, dia juga yang sebenarnya dahulu sekali paling antusias dengan hubunganku dan dimas...
Dan kemanakah akan aku cari jalan keluar untuk segala hal yang sangat rumit ini, apakah aku akan terus-terusan menjadi wanita simpanan ataukah pergi meninggalkannya, demi mencari sesuatu yang akan membuatku sangat bahagia dan tenang?... aku cukup bahagia bisa memilikinya kembali, tapi aku juga tidak mau menjadi terjebak didalam permainanku sendiri.
beberapa malam berlalu dengan sangat tenang, dan menyenangkan untuk diriku, tapi tiba-tiba hal itu berubah, lelaki itu kembali lagi, dan memohon dengan segala hal yang pernah aku ucapkan, ia mau memberikan segalanya, meninggalkan wanitanya, walau belum sepenuhnya. ia memohon kembali. lalu aku? aku merasa sangat menang dalam pikiranku, segala ancaman yang aku berikan segala ucapan yang aku ucapkan mampu membuatnya kembali kedalam pelukkanku, aku wanitanya, tidak ada yang lain, pikir ku seperti itu kala itu.
"jadi kali ini keputusan apa yang akan kamu ambil untuk melanjutkan semua rencanamu. apakah aku akan berperan serta untuk segalanya? apakah nanti kita akan tetap seperti ini ? ataukah kita akan berjalan ke arah yang berbeda? atau mungkin saja kamu akan memberitahu semua orang tentang keberadaanku sebenarnya?" - beberapa pertanyaan dan penyataan ku lontarkan kepadanya seakan-akan dia akan menjawab semua pertanyaanku dan membenarkan pernyataanku.
👦 : " tunggu sebentar, biarkan aku berfikir sejenak sayang,,, apakah bisa kamu memberiku sedikit saja waktu, aku sedang berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyakitimu dan juga dia, aku tidak ingin kamu bertindak terlalu jauh untuk mendapatkan apa yang kamu harapkan, biar aku saja yang akan menjelaskannya kepada semua orang, bahwa segala hal yang terjadi itu karena perbuatanku, dan kamu tidak pernah ada sangkut pautnya dengan semua hal yang terjadi ini, kamu cukup tahu saja bahwa aku sangat mencintaimu"
👧 : " Dengarkan aku, aku tidak ingin melakukan apa-apa, tapi setidaknya tolong beri aku kejelasan akan seperti apakah semua ini ? jika pada akhirnya kamu akan bertindak diluar perkiraanku, setidaknya aku sudah bersiap untuk pergi lagi darimu" .... sejenak ia berdiri dan mengambil minum dan kembali duduk diatas kasur bersama denganku, kemudian dia memberikan ciuman hangat dan pelukkan, seketika itu juga aku langsung menangis didalam pelukkannya, seketika aku merasa hancur berantakan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi aku merasa bersalah, terhadap hidupku.. tidak... tidak ada rasa bahagia didalam diriku...aku merasa menyesal membiarkannya kembali menjamah hidupku dan tubuhku, aku seperti wanita yang tidak mempunyai harga diri dihadapannya ...
👦 : "ada apa ?... apa yang membuatmu menangis? bukankah kau sudah merasa menang, karena aku akan melakukannya untukmu, seharusnya kamu sekarang membalas ciumanku,dan pelukkanku bukannya menangis seperti ini dihadapanku"
👧 :" bukan ituu, aku merasa kasihan dengan diriku, apa kamu berfikir hal seperti ini akan membuatku sangat bahagia? kamu tidak pernah memikirkan resiko yang akan aku alami mas, aku memang sangat-sangat menginginkan cintamu bahkan aku ingin dirimu menjadi milikku seutuhnya, tanpa terbagi dengan wanita yang lainnya. seperti dahulu, kamu memanglah milikku dan dan akan aku lepaskan pada waktu itu"-ucapku yang semakin terisak
👦 : " hey, dengarkan aku, jangan pedulikan ucapan orang lain, buktinya sekarang aku bersamamu, tanpa pengecualian, aku membiarkan nafsu ku menjamah dirimu, aku bahkan tidak bisa membiarkanmu bersama lelaki lain, aku sangat-sangat membutuhkanmu, aku ingin terus- terus ada untuk dirimu"
👧 : " pernyataan seperti apa itu. Bohong! aku tak pernah percaya sepenuhnya terhadap semua ucapanmu, kalau memang sebenarnya kamu sangat mencintaiku, dulu sekali sejak awal pertemuan kita kamu tidak akan berselingkuh dariku, dan yang paling bodoh dari hubungan ini adalah aku yang menjadi selingkuhanmu,sekarang"
👦 : "jadi apa yang ingin kamu lakukan atau apa yang kamu inginkan?... apakah kamu ingin terus menjadi wanita simpananku? menjadi pelacur untukku? menjadi kekasih ku? atau sesuatu yang lebih dari dugaanku ?..." - ucapnya sambil membelai rambutku, tanpa memikirkan betapa menyakitkannya kata-kata itu terhadap perasaanku
👧 : " apa kamu bilang?*sambil menghapus air mataku, aku menatap matanya* menjadi pelacur untukmu?.. menjadi simpanan untukmu ?... aku kehabisan kata-kata dengan ucapanmu, kamu memang lelaki yang tak pantas untuk aku pertahankan, aku pikir setelah kejadian itu, kamu akan menjadi lebih baik mas, aku pikir, setelah kamu memohon dihadapanku, dan berharap aku kembali padamu, kamu benar-benar menginginkan aku mas"
👦 : " aku sudah bilang dari awal kepadamu, aku membutuhkanmu, aku membutuhkan cintamu, tapi aku tidak pernah berharap kamu akan menjadi kekasihku lagi, aku sudah menjelaskan semuanya bukan"
... kemudian aku berdiri dari kasur dan kemudian ia menarik tanganku dan berkata...
👦 : " apakah kamu akan benar-benar mengakhiri permainan ini sayang? apakah akhir yang seperti ini yang kamu inginkan? ayohlah,, aku tahu kamu memang sangat-sangat mencintaiku, dan tidak akan pernah bisa meninggalkan aku sama sekali," -genggaman tangannya sangat kuat
👧 : "lepasan tanganmu itu"
👦 : " aku akan melepaskannya tapi kembalilah duduk diatas kasur ini, dan jangan pergi untuk mengakhiri pembicaraan kita"
.... aku menatapnya dengan sinis dan berfikir, betapa sangat menyesalnya aku ketika meninggalkannya, dan malah kembali lagi kedalam pelukkannya , aku pikir ancaman yang aku berikan akan membuatnya menyerah dengan segala hal, namun ternyata hal itu yang membuat aku menjadi yang terancam akan situasi ini, tak pernah aku temukan sifatnya yang menjadi sedikit kasar terhadapku,...
Aku melihat itu, melihat bayanganmu itu,
Aku melihat itu, melihat masa lalumu mencoba sedikit meliriknya.
melihat cintamu yang dahulu sebelum denganku,
Aku pikir aku lebih mengenal dirimu, dari wanita yang lain.
Nyatanya aku memang paling yang tidak tahu apa-apa tentang dirimu, aku terlalu sombong dengan pengetahuan ku atas dirimu.
Aku merasa malu atas segala hal yang pernah kita lalui.
Aku selalu mencoba menjadi paling benar dari hidupmu,
Aku selalu mencoba menjadi yang paling layak,
Aku selalu mencoba menjadi yang paling terpercaya,
Dan bahkan aku berusaha mencoba menjadi yang selalu ada.
Aku malu atas segalanya,
Aku berusaha untuk menjadi yang kuat.
Aku berusaha untuk menjadi sandaran, nyatanya aku yang terhempas, aku yang terlemah, aku tidak menjadi apa-apa.
Aku merasa sangat menyedihkan ketika aku meyakinkan segalanya,
Ketika aku berusaha, sangat-sangat berusaha menjadi sesuatu yang benar-benar kau cintai.
Semua hal yang terjadi, tidak menghilangkan segalanya, aku tau semua tak lagi sama, tapi bisakah aku melakukannya dengan caraku sendiri?
Cara meninggalkan mu
Cara melupakan mu
Cara melepaskan mu
Cara mencintaimu
Cara apapun itu yang bisa aku lakukan
Aku merasa sangat sedih tidak pernah menjadi apa-apa untuk dirimu, tidak bisa menjadi yang paling berkesan, aku malu.
....
Kemarin aku diam, kau bicara.
Kemarin kau sapa, aku diam.
Kemarin kau suka, aku sapa.
Kemarin aku suka, kau sayang.
Kemarin kau cinta, aku sayang.
Sekarang aku sayang, kau diam.
Sekarang aku diam, kau diam.
Kemudian aku merajuk pergi, kau memohon kembali.
Bukan itu yang aku mau,
Nyatanya kita ada dilangkah yang berbeda.
Sekarang kita sama-sama berusaha berhenti tanpa mengerti kapan akan memulai kembali, atau mungkin memang tidak akan pernah kembali, dan kemudian kita memang tidak pernah benar-benar bersama.
Kita hanya mencoba menyenangkan orang sekitar. Kita memang teramat sulit untuk benar-benar bahagia.
Kamu menghapusku untuk kedua kalinya, mengabaikan ku untuk kesekian kalinya,
Hatiku patah untuk kesekian kalinya,
Tidak...
Aku tidak tahu pasti, yang jelas kau berbahagia dengannya, sedangkan aku masih berusaha mengejar bayanganmu yang entah kapan akan berbalik mengejarku.
Aku mencoba berhenti, tapi tak pernah kutemukan kemana aku akan melangkah.
Tak pernah kutemukan, ada dimana,
Dimanakan sosok kebanggaanku itu.
Terbelah? Hancur? Melebur sejadi-jadinya. Aku bagaikan wanita yang kau cari ketika kau membutuhkan teman untuk bercinta,
Aku bagaikan wanita yang kau cari ketika kau menginginkan hausnya perhatian, Aku bagaikan wanita yang kau temukan di sebuah tempat persembunyian yg kau simpan rapat-rapat. Aku bagaikan wanita yang kau buang seakan aku tak pernah menjadi barang atau simpanan berhargamu.
Aku sadar, sudah seharusnya aku berhenti, berhenti mengejar, berhenti mencari, berhenti berharap, berhenti mencoba dan berhenti segala hal tentang dirimu, menjauhkan segala hal mengenai dirimu, coba ku ingat sejenak, obrolan hangat itu.
 : "jangan, jangan pernah melangkah pergi, sekali saja kau menjauh dariku,..."
 : "apa.... Apaa?? Coba jelaskan, apa yang akan kau lakukan,"
 : "aku akan berusaha meninggalkan mu, tanpa pengecualian"
 : "memangnya kenapa? Aku sudah cukup lelah dengan hal ini, aku sadar menjadi wanita kedua tidak akan pernah cukup untuk diriku"
 : "aku tak pernah memaksamu untuk menjadi yang kedua untukku, tapi jangan pernah tinggalkan aku, hanya itu, aku tak butuh yang lain darimu"
 : "tapi dengar, aku wanita! Aku membutuhkan sesuatu yang lain, aku membutuhkan sesuatu yang lebih, dan aku ingin menjadi yang pertama dihidupmu, dihari-harimu, jika memang aku hanya menjadi orang yang kau butuhkan saja, tak menjadi wanitamupun aku bisa menjadi yang kau butuhkan"
 : "Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat panjang lebar denganmu, dengarkan aku, aku membutuhkan mu, aku membutuhkan waktumu, aku juga membutuhkan cintamu"
 : "kalau begitu, jadikan aku yang pertama, dan kau akan memiliki segalanya, segalanya dari diriku, dengarkan aku, aku beri kau pilihan, aku yang meninggalkanmu, atau kau meninggalkan wanita pertamamu itu! Aku sudah sangat lelah menaruh segalanya terhadap dirimu, tidak ada pengakuan bahwa aku memang milikmu!"
 : "itu bukan pilihan yang layak untukku, apakah kita tidak bisa seperti semula? "
 : "kau bilang apa?! Seperti semula?! Apanya yang seperti semula?! Semuanya? Kau membuatku muak dengan hal ini, dengarkan aku!"
 : "iya, memang seperti semula, pada saat kamu tidak pernah menuntut banyak hal"
 : "maaf, aku tidak bisa, dengarkan, dan jangan potong pembicaraanku ini, Aku sadar aku adalah wanita kedua di hidupmu, menjadi wanita simpanan yang tak pernah meminta apapun, tapi aku tetap kepunyaanmu, apa salahnya aku menuntutmu, Jika memang sedari awal kau memang mencintai wanitamu, kau tidak akan pernah tergoda olehku, jika memang dari awal kau tidak pernah yakin dengan wanitamu itu, kau tidak akan pernah menoleh kembali kepadaku, dengar, dengarkan aku AKU INGIN KITA BERAKHIR, INI TIDAK AKAN SULIT UNTUKMU, INI HANYA AKAN MENJADI SANGAT SULIT, KETIKA AKU YANG AKAN BENAR-BENAR MEMAKSAMU UNTUK MELAKUKAN HAL GILA"
*dan aku pergi meninggalkan dirinya*
Aku sadar menjadi wanita kedua itu bukan hal yang wajar, aku menikmati, tapi aku juga tersakiti, aku menyukai, tapi aku juga yang terjatuh.
Aku juga pernah menjadi wanita pertama, menjadi yang satu-satunya dicintai
Menjadi satu-satunya yang diperhatikan
Aku sadar menjadi wanita kedua bukan hal yang mudah untuk dijalani,
Menjadi simpanan, ketika kau harus bersembunyi pada saat bertemu,
Ketika kau harus bersembunyi pada saat bercinta,
Ketika kau harus benar-benar menutupi segala hal tentang nya, itu benar-benar hal yang sangat melukai perasaanku,
Ya aku sadar siapapun akan mengutukku, ketika aku ceritakan bahwa aku adalah simpanan lelaki itu, tapi akupun tidak mau menjadi simpanan, maka dari itu aku menuntut, tapi apakah salahku jika aku cukup bahagia dan cukup tersiksa ketika menjadi simpanan seorang lelaki yang sangat aku cintai? Sudahlah tidak perlu berkomentar akan seperti apa hidupku, aku sudah mengakhiri segala hal itu, aku sudah cukup lelah untuk menjadi wanita simpanan.